Mengapa Suku Ta'a Beramai-ramai Masuk Islam?

Seperti diberitakan sebelumnya, bahwa pada Jumat, 14 Februari 2020, sebanyak 300 Orang Ta’a mengucap ikrar syahadat di Masjid Jami’ Al Furqon Desa Tanasumpu, Kec Mamosalato, Kab Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Ratusan orang suku Tau Ta’a Wana itu berasal pedalaman Ngoyo di lereng Gunung Ngoyo dan pedalaman Lambentana di punggung Gunung Tokala.

Sejak sepekan sebelumnya, mereka secara bergelombang turun gunung berjalan kaki menuju Masjid Al Furqon di Tanasumpu, ibukota Kecamatan Mamosalato, demi menjadi Muslim.



Dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Da’wah Morowali Utara Ustadz Sigit Sugianto, Pakar Kristologi Ustadz Insan L Mokoginta, dan mantan Pendeta Ustadzah Nevy Amaliya, ikrar syahadat berlangsung khidmat. Bukan hanya dalam bahasa Arab dan Indonesia, tapi juga bahasa Ta’a dan Inggris.

Lalu apa sebenarnya yang mendorong penduduk Gunung Ngoyo dan Gunung Tokala itu beramai-ramai memeluk Islam?

Tim Laznas Dewan Da’wah mewawancarai beberapa orang suku Tau Taa Wana yang datang ke pusat Kecamatan Mamosalato, Morowali, untuk mengucapkan syahadat masal pada Jumat (14/2). Komunikasi antara tim dengan suku Tau Taa Wana dibantu oleh dai lokal Mamosalato, Ustadz Asgar, yang fasih berbicara Bahasa Ta’a.

Salah satunya Toni, orang asli Tau Taa Wana asal pedalaman Lambentana, yang datang untuk bersyahadat bersama 30 orang keluarganya. Dulu ia sering dijemput helikopter dari gunung Tokala ke Papua untuk menyebarkan ‘misi kemanusiaan’.

Berkali-kali ia melakukan hal tersebut, tapi ia tak menemukan rasa kedamaian di dalam hatinya. Di sisi lain, ia memperhatikan orang-orang suku Tau Taa Wana yang sudah masuk Islam menjadi bersatu dan senang karenanya. Ia menilai, Islam memberikan ketenangan (ketentraman hidup) bagi saudara-saudaranya itu.

Selain itu, baginya Islam memberikan perhatian kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Nilai ini yang membuatnya respek kepada Islam.

Selain Toni, ada Dangal juga asal pedalaman Lambentana, yang sebelumnya menganut agama kepercayaan (dalam bahasa Taa disebut agama hi laig)/animisme/ belum punya agama. Ia mengakui bahwa tidak ada sama sekali yang memaksanya masuk Islam.

Tanpa paksaan dan iming-iming materi 

Menurut pembina mualaf Orang Ta’a, Ny Ratih, pilihan Orang Ta’a untuk berislam bukan sekedar ikut-ikutan.

“Mereka mau masuk Islam dari hati nurani mereka sendiri, sebab tertarik melihat cara hidup Islam yang bersih dan baik,” ujarnya saat mendampingi dan mempersiapkan para mualaf untuk bersyahadat.

Toni, mualaf dari Lambentana, membenarkan. Orang Ta’a yang pernah diiming-imingi memeluk agama lain ini mengaku, ia tertarik pada kehidupan Muslim yang bersih dan ramah.

Ketertarikannya kepada Islam mulai muncul saat memperhatikan orang Ta’a yang sudah masuk Islam mendapatkan baju bekas dari bawah (pusat Kecamatan Mamosalato), tetapi hanya diambil secukupnya dan lainnya diberikan kepada saudara Tau Taa Wana lainnya.

Hal ini membuat pilihannya jatuh untuk memeluk Islam sebab adanya nilai plus (akhlak) saudara Tau Taa Wana yang sudah masuk Islam.

Dangla, rekan Toni, menimpali, orang Islam ramah bergaul dengan siapa saja.

Ustadz Sigit menuturkan “Setelah ini mereka tidak dibiarkan begitu saja. Dewan Dakwah dan semua ormas, wajib menunaikan hak-hak mereka untuk menjadi muslim mualaf dan memberikan pembinaan.”

Dalam penyelenggaraan acara ini, Dewan Da’wah Morowali bersama Laznas Dewan Da’wah didukung oleh Mualaf Center Aya Sofia, Gerakan Islam untuk Semua (GIUS), dan mitra pendukung dakwah Yayasan Samudera Indonesia Peduli. (Ratusan Suku Ta’a Morowali Utara Masuk Islam) ***Laznas Dewan Da'wah

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post