Seminar Terbuka Gerak Jabar : Respon Jawa Barat terhadap RUU BPIP

Gerakan Rakyat Anti Komunis (GERAK) Jawa Barat mengadakan acara seminar terbuka dengan tema Respon Jawa Barat terhadap RUU BPIP ,  Sabtu 8 Agustus 2020  bertempat di Mesjid Istiqamah Jalan Taman Citarum Nomor 1 Kota Bandung. Acara menghadirkan  narasumber antaralain : Ust. Dr. Nadjamuddin Ramly, M. Si (Wasekjen MUI Pusat), KH. Atian Ali M. Da’i, LC. M.A, Ust. Alfian Tanjung, Dr. Hadiyanto A Rachim/DDII Jabar, dan Brigjen. Purn. TNI. Nasuka. M.M.


Ketua Dewan Da'wah (DDII) Jawa Barat, Dr. Hadiyanto A Rachim  dalam kesempatannya menyampaikan hal-hal yang perlu di perhatikan juga ditindak lanjuti oleh para lapisan masyrakat Jawa Barat, umumnya mayarakat/elemen Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam menyikapi RUU HIP juga BPIP.


Seperti salah satunya pernyataan Gusdur ini tepat pada saat sekarang DPR membuat Hak Inisiatif Rancangan Undang Undang HIP ini seolah olah pemikiran anak-anak usia dini/Taman Kanak-Kanak.


Seperti diketahui, RUU HIP yang saat ini dibahas oleh para anggota DPR banyak menuai kritik dan kontroversial, karena tidak mencantumkan TAP MPRS Nomor 25/MPRS/1966 tahun 1966 tentang pembubaran PKI sebagai Konsidiran.


Kemudian MUI menerbitkan Maklumat Menolak RUU HIP, di dukung oleh berbagai elemen masyrakat karena telah mendistorsi substansi dan makna nilai-nilai Pancasila, sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan dan Batang tubuh UUD 1945.


Salah satu bentuknya adalah memeras Pancasila menjadi Trisila lalu menjadi Ekasila yakni “Gotong Royong”. Menurut MUI, ini nyata-nyata merupakan upaya pengaburan dan penyimpangan makna dari Pancasila itu sendiri.


Selain itu, secara terselubung ingin melumpuhkan keberadaan Sila Pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa yang telah dikukuhkan dengan pasal 29 ayat (1) UUD tahun 1945 serta menyinkirkan peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Oleh karena itu wahai anak bangsa bersatulah menyelamatkan Pancasila dari Rongrongan kaum yang memusuhi agama, yang ingin menghapus sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi Ketuhanan Yang Berkebudayaan.


Kelompok yang selalu berusaha menghancurkan dan melegalkan segala cara Pancasila siapa lagi kalau bukan “Komunisme” dan kini saatnya kita bela NKRI dan Pancasila dari faham-faham kamunisme yang ada di NKRI.

Ustadz Alfian Tanjung mengingatkan bahwa saat ini, PKI sedang melakukan pergerakan yang sangat berbahaya, yaitu kudeta melalui konstitusi.


"Kita sekarang mengalami dendam. Dan gerakan PKI saat ini sedang melakukan pergerakan yang sangat berbahaya, yaitu kudeta melalui konstitusi," kata Alfian


Alfian menjelaskan, dalam sebuah buku karya Prof. Zainal Abidin menyebutkan bahwa kegagalan pemberontakan PKI pada tahun 1948 merupakan warming up (pemanasan). Kegagalan pada tahun 1965 merupakan general repetisi dan akan melakukan pemberontakan yang ketiga.


"Pemberontakan itu udah selesai, yang mana lebih dari 4.000 perda syariah di amputasi. Jadi gerakan itu cepat," ungkapnya.


Ketua Gerakan Rakyat Anti Komunis (Gerak) Jabar, Muhammad Roinul Balad menyebut, jika terselenggaranya seminar ini atas dasar penolakan terhadap RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila) yang akan diubah menjadi RUU BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila).


"Sebagaimana yang sudah kita lakukan gerakan-gerakan penolakan dari berbagai macam elemen massa yang ada di Republik Indonesia ini dan terakhir pada 16 Juli yaitu di sidang terakhir MPR dan setelah itu memang posisinya sedang tidak ada sidang dan sampai sekarang nasibnya kita belum tahu jelas bagaimana RUU HIP ini kemudian akan berubah menjadi RUU BPIP nah untuk itu lah acara ini di gelar," ucapnya.


Roin mengatakan, yang menjadi semangat jihad dalam penolakan ini atas dasar maklumat Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang begitu menyentuh kepada semua umat.


"Semua akan tersadarkan akan bahaya komunis yang ada di Republik Indonesia ini. Tentu saja untuk lebih bisa melanjutkan perlawan kita terhadap gerakan komunis yang ada di Indonesia ini yang sekarang sedang mencoba bangkit melalui konstitusi," tandasnya. *** jabarnews/saktimedianews/gerakjabar

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post