PENTINGNYA BERDAKWAH DENGAN HIKMAH

Oleh: Dr. H. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Alhamdulillah, sudah dua kali, pengurus Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (Dewan Da’wah), mengadakan rapat, usai shalat subuh berjamaah di Masjid al-Furqan Jln. Kramat Raya 45 Jakarta. InsyaAllah kegiatan Rapat Jumat Subuh ini akan menjadi agenda rutin pengurus Dewan Da’wah.
Disamping membahas soal kepengurusan dan program kerja, dalam rapat kedua ini, Wakil Ketua Umum Dewan Da’wah KH A. Wahid Alwi MA, menekankan pentingnya berdakwah dengan hikmah, berdasar QS al-Nahl: 125: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pengajaran yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS an-Nahl (16): 125).
Nasehat tokoh Dewan Da’wah itu penting kita perhatikan. Sebab, hikmah adalah landasan penting agar dakwah membawa hasil sebaik-baiknya. Dalam al-Quran Terjemah terbitan Kementerian Agama RI terbaru (2019), kata “hikmah” diartikan sebagai: “perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.”
Dalam buku terkenalnya, Fiqhud Da’wah, pendiri Dewan Da’wah, Mohammad Natsir, membahas masalah “hikmah” sepanjang 83 halaman, dari 347 halaman bukunya. Mengutip pendapat Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar, M. Natsir menjelaskan makna hikmah sebagai berikut: “Ammal hikmatu fa-hiya fii kulli syai’in ma’rifatu sirrihi wa-faaidihi” (Adapun hikmah adalah memahamkan rahasia dan faedah tiap-tiap sesuatu).
Arti lain: Fal-hikmatu hiya al-‘ilmu al-shahiihu al-muharriku lil-iraadati ilaa al-‘amali al-naafi’i.” (Hikmah adalah ilmu yang shahih (benar dan sehat) yang menggerakkan kemauan untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bermanfaat).
Qamus Lisanul Arab memberikan pemahaman: “hakiimun: man yuhsinu daqaa’iqa al-shinaa’aati wa-yufqihumaa”.
M. Natsir kemudian menyimpulkan makna hikmah: “Hikmah, lebih dari semata-mata ilmu. Ia adalah ilmu yang sehat, yang sudah dicernakan; ilmu yang sudah berpadu dengan rasa periksa, sehingga menjadi daya penggerak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, berguna. Kalau dibawa ke bidang da’wah: untuk melakukan sesuatu tindakan yang berguna dan efektif.”
Penjelasan M. Natsir tentang hikmah dalam dakwah ini sangat penting, sebab beliau adalah tokoh dakwah yang diakui oleh dunia internasional. Pak Natsir bukan sekedar akademisi atau pengajar mata kuliah ilmu dakwah. Tetapi, beliau sudah terjun dalam dunia dakwah sejak usia belia. Sejak duduk di bangku SMA di Bandung, Natsir muda sudah aktif dalam organisasi dakwah (Jong Islamieten Bond/JIB), dan berguru kepada guru-guru terbaik, seperti A. Hassan, Haji Agus Salim, dan Syekh Ahmad Soorkati.
Setelah itu, M. Natsir terjun langsung berdakwah sebagai guru, dengan terus aktif dalam dunia dakwah dan pergerakan nasional. Sampai akhir hayatnya, M. Natsir tetap aktif berpikir dan bergerak dalam dunia dakwah. Beliau bergerak dalam berbagai bidang kehidupan: pendidikan, sosial, ekonomi, pemikiran, media massa, dan juga politik. Bahkan, sempat pula bergerilya di hutan.
Karena itulah, ilmu dakwah yang ditulis oleh Mohammad Natsir penting untuk dikaji para pelajar, santri, atau mahasiswa. Buku Fiqhud Da’wah karya M. Natsir ini dijadikan sebagai salah satu buku wajib yang harus dikaji oleh para santri Pesantren at-Taqwa Depok. Buku ini ditulis berdasarkan kajian literatur dan juga pengalaman dakwah Pak Natsir yang sangat kaya.
Pak Natsir menulis: “Bila kemampuan yang dinamakan ‘hikmah’ di bidang da’wah ini sudah dikuasai, maka petunjuk da’wah bil-hikmah itu diperlukan dalam menghadapi semua golongan, baik golongan cerdik cendekiawan, golongan awam, ataupun golongan yang suka bersoal jawab, bermujadalah. Dalam bahasa Indonesia seringkali “bil-hikmah” ini diterjemahkan dengan kata “bijaksana” atau “dengan kebijaksanaan.”




*****

Di era disrupsi, dimana informasi dan ilmu pengetahuan begitu melimpah ruah seperti saat ini, kemampuan ‘hikmah’ ini sangat diperlukan dalam dunia dakwah. Sekali lagi, kita renungkan makna hikmah yang dirumuskan Mohammad Natsir:
“Hikmah, lebih dari semata-mata ilmu. Ia adalah ilmu yang sehat, yang sudah dicernakan; ilmu yang sudah berpadu dengan rasa periksa, sehingga menjadi daya penggerak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, berguna. Kalau dibawa ke bidang da’wah: untuk melakukan sesuatu tindakan yang berguna dan efektif.”
Jadi, hikmah bukan sekedar ilmu; tetapi ilmu yang sudah dipadukan dengan kesadaran jiwa yang benar, sehingga menjadi daya penggerak untuk melakukan sesuatu yang berguna dan efektif. Dalam bahasa yang lebih sederhana, hikmah ini adalah pemahaman yang benar yang sudah menyatu dalam diri seseorang, yang mampu melahirkan perbuatan atau ucapan yang tepat dan bermanfaat.
Jadi, hikmah, bukan sekedar benar, tetapi benar dan tepat! Karena itulah Prof. Naquib al-Attas menyatakan, bahwa hikmah adalah sumber adab, dimana adab adalah perbuatan atau kelakuan yang betul (right action). Hikmah bukan hanya diberikan Allah kepada orang-orang pintar, tetapi diberikan Allah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, seperti para Nabi, orang-orang bijak seperti Lukman al-Hakim, dan sebagainya.
Dakwah adalah kewajiban setiap muslim. Kata Nabi kita saw: “Siapa yang melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya, dan jika tidak mampu, dengan hatinya. Itu adalah selemah-lemah iman.”
Di era melimpahnya informasi saat ini, setiap muslim dengan mudah bisa menjadi dai. Tetapi, dakwah perlu dibimbing oleh hikmah. Jangan asal semangat lalu menyebarkan berita, tanpa tabayyun atau tatsabbut atau cek dan ri-cek. Itu pun harus disertai dengan niat ikhlas karena Allah SWT.
Hikmah akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang tekun dan ikhlas dalam mengerjakan sesuatu. Termasuk mau belajar dari kesalahan. Setiap anak Adam pasti pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang salah, adalah yang bertaubat.
Semoga kita bisa meraih hikmah, sehingga bisa menjalankan kewajiban berdakwah dan mendidik, dengan benar dan tepat! Amin. (Depok, 3 Oktober 2020).

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post